Dalam perspektif psikoanalisis, kondisi seperti ini juga dapat memunculkan konflik internal berat. Freud percaya bahwa ketika seseorang terlalu menekan dorongan Id dan membiarkan Superego mendominasi secara berlebihan, tekanan psikologis dapat muncul dalam bentuk penderitaan batin.
Hal tersebut sangat terlihat pada Itachi. Ia hidup dalam kebohongan, memendam rasa bersalah, menjauh dari adiknya, serta menanggung beban emosional sendirian selama bertahun-tahun. Secara simbolis, penyakit fisik yang dideritanya bahkan dapat ditafsirkan sebagai representasi tubuh yang telah terlalu lama memikul tekanan mental.
Pada akhirnya, Itachi bukan sekadar karakter kuat dengan kemampuan luar biasa. Ia adalah gambaran seseorang yang terus-menerus bertarung melawan dirinya sendiri. Bila dilihat melalui teori Freud, tragedi Itachi bukan hanya tentang peperangan atau pengkhianatan, melainkan kisah tentang manusia yang terlalu banyak mengorbankan dirinya hingga kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Mungkin di situlah letak mengapa Itachi begitu disukai banyak penggemar: karena di balik sosok sempurnanya, terdapat manusia yang diam-diam sedang hancur.
Artikel Terkait
GAGAK Soroti Dugaan Penolakan Pasien BPJS di RSUD Labuan, Desak Investigasi Independen
596 Warga Desa Pasirgadung Terima Bantuan Beras dan Minyak, Penyaluran Berjalan Lancar dan Kondusif
Xiaomi Redmi Note 15 Pro Plus Hadir dengan Kamera 200MP dan Baterai Jumbo, Siap Saingi HP Flagship?
Pesan Haru Mohamed Salah untuk Liverpool: “Tolong Musim Depan Juara Lagi”
Emosi yang Dipendam Diam-Diam Menggerogoti Tubuh: Ibnu Sina dan Sufi Ungkap Hubungan Hati, Pikiran, dan Kesehatan
Taman Nasional Ujung Kulon, Destinasi Wisata Alam Eksotis di Ujung Barat Pulau Jawa
Sosok Hillary Abigail atau Lily JKT48, Idol Muda Pecinta Anime yang Mencuri Perhatian Penggemar
Golkar Soal Dukungan Prabowo-Gibran Dua Periode: Keputusan Resmi Akan Dibahas Partai