Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.803 per Dolar AS, Tekanan Global Jadi Pemicu

Photo Author
Rio Tria Putra, Berikabar.id
- Selasa, 26 Mei 2026 | 20:31 WIB
Rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan sore hari ini.
Rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan sore hari ini.

Pandeglang-berikabar.id | Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini. Mata uang Garuda tercatat melemah cukup dalam hingga menyentuh level Rp17.803 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi salah satu pelemahan terbesar rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan memicu perhatian pelaku pasar keuangan.

 Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global. Sentimen suku bunga tinggi Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang membuat investor cenderung menempatkan dana mereka ke aset berbasis dolar. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut mengalami tekanan.

 Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga ikut memengaruhi pergerakan pasar valuta asing. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia serta tensi geopolitik internasional membuat investor lebih memilih aset aman seperti dolar AS. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.

 Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah sekitar 102 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Hampir seluruh mata uang Asia juga berada dalam tekanan terhadap dolar AS. Yen Jepang, won Korea Selatan, hingga ringgit Malaysia tercatat sama-sama mengalami pelemahan di pasar regional.

Baca Juga: Kementerian ESDM dan Bareskrim Turun Tangan Usut Pemadaman Listrik Massal di Sumatera

Analis pasar menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut apabila sentimen global belum membaik. Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga nilai tukar tetap terkendali. Intervensi di pasar valuta asing dan penguatan kebijakan moneter menjadi salah satu strategi yang kemungkinan akan ditempuh.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dikhawatirkan berdampak pada harga barang impor dan biaya produksi sejumlah sektor industri. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Pelaku usaha pun mulai mewaspadai dampak fluktuasi kurs terhadap aktivitas bisnis mereka.

 Baca Juga: Taman Nasional Ujung Kulon, Destinasi Wisata Alam Eksotis di Ujung Barat Pulau Jawa

Meski begitu, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya. Cadangan devisa Indonesia dinilai masih cukup aman untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan global saat ini.

 Pelemahan rupiah ke level Rp17.803 per dolar AS menjadi perhatian penting bagi pasar keuangan domestik. Investor dan pelaku usaha kini menunggu langkah lanjutan pemerintah serta Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Baca Juga: 596 Warga Desa Pasirgadung Terima Bantuan Beras dan Minyak, Penyaluran Berjalan Lancar dan Kondusif

Editor: Rio Tria Putra

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X