Kamis, 4 Juni 2026

Sistem Pemandu Rudal Berbasis AI Milik Korea Utara Uji Coba Perdana di Perbatasan

Photo Author
Aldi Sumardi, S.pd., Berikabar.id
- Senin, 1 Juni 2026 | 15:20 WIB

Pyongyang - berikabar.id | Militer Korea Utara dilaporkan telah melakukan uji coba sistem persenjataan terbaru yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada sistem pemandu misilnya. Berdasarkan laporan kantor berita resmi KCNA, Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un mengawasi langsung uji coba yang melibatkan sistem peluncur rudal multiguna serta sistem rudal jelajah taktis tersebut. Ini merupakan pertama kalinya Pyongyang secara terbuka mengungkap adopsi teknologi mutakhir tersebut dalam lini persenjataan taktis mereka.

Melalui integrasi ini, sistem pemandu pintar dirancang untuk mengenali, melacak, dan mengunci target secara mandiri dengan menganalisis data medan tempur secara real-time. Kim Jong Un menegaskan bahwa rudal jelajah taktis berkemampuan AI ini nantinya akan segera disiagakan di sepanjang perbatasan Korea Selatan. Langkah ini mempertegas sikap keras Pyongyang setelah amandemen konstitusi terbaru resmi menghapus target reunifikasi damai dan melabeli Korea Selatan sebagai negara musuh utama.


Baca Juga: Presiden Prabowo Ajak Otorefleksi: Sudahkah Pertumbuhan Ekonomi Dirasakan Adil oleh Rakyat?Para pengamat militer menilai bahwa klaim teknologi AI tersebut kemungkinan besar merupakan evolusi dari Automatic Target Recognition (ATR) yang dipadukan dengan algoritma pemrosesan citra digital. Analis militer dari Asian Institute for Policy Studies, Yang Uk, menyebutkan bahwa fokus utama Pyongyang saat ini adalah menguji efisiensi AI dalam mengenali target secara presisi, meskipun tingkat kecanggihan operasional sistem tersebut masih sulit diverifikasi secara independen oleh pihak luar.

Di sisi lain, akselerasi teknologi militer Korea Utara diduga kuat mendapat dorongan dari konflik global yang sedang berlangsung. Sejak akhir 2023, Korea Utara diketahui aktif memasok rudal balistik dan amunisi artileri ke Rusia untuk perang di Ukraina. Hubungan timbal balik ini diyakini memberikan keuntungan besar bagi Pyongyang yang mendapatkan kompensasi berupa data performa tempur riil (real-world combat data) untuk menyempurnakan algoritma pemandu rudal mereka terhadap sistem pertahanan udara Barat.

Baca Juga: Psikologi Behaviorisme Menyoroti Sosok Hashirama Senju: Pemimpin Perdamaian yang Dibentuk oleh Lingkungan

Sementara itu, pihak militer Korea Selatan (JCS) mengonfirmasi telah mendeteksi peluncuran beberapa rudal dari area pantai barat Korea Utara dengan daya jangkau sekitar 80 kilometer sebelum jatuh ke laut. Peluncuran ini menandai berakhirnya masa tenang selama 37 hari tanpa uji coba, sekaligus menjadi unjuk kekuatan kedelapan yang dilakukan Korea Utara sepanjang tahun 2026.

Kendati Dewan Keamanan PBB telah memperketat sanksi internasional, rezim Kim Jong Un secara konsisten tetap mengabaikan pembatasan tersebut. Kim Jong Un menyatakan bahwa militer Korea Utara harus terus membangun kekuatan hancur yang masif agar musuh-musuhnya tidak memiliki peluang untuk selamat dalam perang. Modernisasi ini mengindikasikan bahwa Pyongyang kini mulai beralih ke otomatisasi taktis berbasis komputasi modern demi menghadapi pola peperangan masa depan.

Editor: Aldi Sumardi, S.pd.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X