Pandeglang - berikabar.id | Dunia saat ini tengah memperhatikan dinamika yang terjadi di . Mulai dari polarisasi politik, konflik sosial, hingga meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap elite pemerintahan menjadi sorotan berbagai pengamat global. Menariknya, kondisi tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan teori siklus peradaban yang pernah dikemukakan oleh.
Tokoh Muslim abad ke-14 itu dikenal melalui karya monumentalnya Muqaddimah, yang membahas tentang lahir, berkembang, hingga runtuhnya sebuah peradaban. Dalam teorinya, Ibnu Khaldun memperkenalkan konsep ‘ashabiyyah, yakni solidaritas sosial atau semangat kolektif yang menjadi fondasi utama kekuatan suatu bangsa.
Menurut pandangan Ibnu Khaldun, sebuah negara besar biasanya lahir dari masyarakat yang memiliki semangat persatuan kuat, disiplin tinggi, dan tujuan bersama. Namun ketika negara mencapai puncak kejayaan dan kemewahan, solidaritas tersebut perlahan melemah.
Baca Juga: Warga Sukasari Antusias Terima Daging Kurban Bantuan Presiden Prabowo
Fenomena ini dinilai mulai tampak di Amerika Serikat saat ini. Perpecahan politik antara kelompok konservatif dan progresif semakin tajam, bahkan sering memicu konflik sosial di ruang publik maupun media digital. Di sisi lain, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan institusi negara juga mengalami penurunan.
Dalam teori Ibnu Khaldun, melemahnya solidaritas sosial menjadi salah satu tanda awal kemunduran sebuah peradaban. Ketika masyarakat lebih mementingkan identitas kelompok dibanding kepentingan nasional, maka fondasi negara perlahan menjadi rapuh.
Selain itu, Ibnu Khaldun juga menyoroti bahaya kemewahan berlebihan terhadap keberlangsungan suatu bangsa. Ia berpendapat bahwa generasi awal sebuah kekuasaan biasanya terbiasa hidup keras dan penuh perjuangan. Namun setelah mencapai kemakmuran, generasi berikutnya cenderung lebih nyaman, konsumtif, dan kehilangan daya tahan sosial.
Kondisi tersebut dianggap relevan dengan kehidupan modern di Amerika. Budaya konsumsi tinggi, ketergantungan pada teknologi dan hiburan, hingga meningkatnya utang negara sering disebut sebagai gejala masyarakat yang mulai kehilangan keseimbangan sosial.
Baca Juga: Trailer Baru Spider-Noir Rilis, Nicolas Cage Tampil Misterius di Serial Prime Video
Tidak hanya itu, kesenjangan ekonomi antara kelompok kaya dan masyarakat biasa juga menjadi perhatian. Banyak warga Amerika merasa bahwa elite politik dan korporasi besar lebih dominan dibanding suara rakyat. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, keadaan seperti itu dapat memicu krisis kepercayaan terhadap negara.
Meski demikian, Amerika Serikat masih menjadi salah satu negara paling berpengaruh di dunia. Kekuatan ekonomi, teknologi, militer, hingga pendidikan tinggi masih menjadi faktor utama yang menjaga dominasinya di panggung global.
Karena itu, teori Ibnu Khaldun tidak selalu berarti bahwa sebuah negara akan langsung runtuh. Sang filsuf justru menilai bahwa peradaban masih bisa bertahan jika mampu memperbarui solidaritas sosial dan memperbaiki hubungan antara rakyat dengan pemimpinnya.
Artikel Terkait
Daftar Emiten yang Bagi Dividen Minggu Ini, Bisa Jadi Tambahan Dana Libur Panjang
Penyegaran atau Operasi Penyelamatan? Rotasi Pejabat Pandeglang Tuai Sorotan Publik
ONIC PH Gak Kasih Celah, Falcons Dibantai 3-0 Tanpa Balas di Series Panas Ini!
Trailer Baru Spider-Noir Rilis, Nicolas Cage Tampil Misterius di Serial Prime Video
Piala Dunia 2026 disebut berpotensi jadi turnamen paling politis akibat isu geopolitik, konflik global, dan tekanan diplomatik dunia
Barcelona vs Real Sociedad di Liga F 2026, Duel Sengit Perebutan Poin Penting
Pertamina pastikan belum ada pembatasan Pertalite mulai Juni 2026. Warga diminta tidak percaya isu liar yang beredar luas.
Crystal Palace juara Conference League 2026 usai menang 1-0 atas Rayo Vallecano di final Leipzig, Jerman dini hari. Cetak sejarah baru. UE
Warga Sukasari Antusias Terima Daging Kurban Bantuan Presiden Prabowo
Purbaya Sebut Rupiah Sentuh Rp17.800 per Dolar AS Tidak Rasional, Pemerintah Pastikan Ekonomi Tetap Stabil