Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal Fenomena Bediding, Penyebab Suhu Dingin Saat Musim Kemarau

Photo Author
Rio Tria Putra, Berikabar.id
- Selasa, 2 Juni 2026 | 19:58 WIB
Fenomena bediding membuat suhu udara terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau.
Fenomena bediding membuat suhu udara terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau.

berikabar.id | Fenomena bediding kembali menjadi perhatian masyarakat seiring turunnya suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia saat musim kemarau. Meski identik dengan cuaca panas, musim kemarau justru dapat menghadirkan udara yang terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

Bediding merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa untuk menggambarkan kondisi udara dingin yang terjadi selama musim kemarau. Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang aneh dan termasuk bagian dari proses alamiah yang kerap terjadi setiap tahun.

Menurut penjelasan BMKG, salah satu penyebab utama bediding adalah minimnya tutupan awan saat musim kemarau. Langit yang cenderung cerah membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara menurun secara signifikan.

Selain itu, rendahnya kelembapan udara juga turut memengaruhi munculnya fenomena ini. Kondisi udara yang lebih kering membuat proses pelepasan panas berlangsung lebih cepat dibandingkan saat musim hujan.

Baca Juga: Buron Dicari Polisi, Pemuda Ini Malah Like Poster Pencarian Dirinya Sendiri

Faktor lain yang memicu bediding adalah dominasi angin timuran atau angin muson Australia yang membawa massa udara kering dan relatif dingin menuju wilayah Indonesia. Pengaruh angin tersebut umumnya lebih terasa pada puncak musim kemarau.

Fenomena bediding biasanya terjadi pada periode Juli hingga September, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sejumlah daerah dataran tinggi lainnya. Pada beberapa lokasi, suhu udara bahkan dapat turun cukup drastis dibandingkan hari-hari biasa.

Menariknya, meski pagi hari terasa dingin, suhu udara pada siang hari justru bisa menjadi lebih panas. Hal ini terjadi karena sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa terhalang awan.

Baca Juga: Cara Membuat Tahu Crispy Tetap Kriuk Meski Sudah Dingin, Mudah Dipraktikkan

Di daerah pegunungan, fenomena bediding terkadang memicu munculnya embun beku atau embun upas ketika suhu turun hingga mendekati titik beku. Kondisi tersebut sering ditemukan di kawasan dataran tinggi pada puncak musim kemarau.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh saat fenomena bediding berlangsung. Penggunaan pakaian hangat, menjaga asupan cairan, serta menjaga daya tahan tubuh menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak udara dingin.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kebiasaan, Ini 5 Ciri Kepribadian Orang yang Makan Cepat Menurut Psikologi

Fenomena bediding menunjukkan bahwa cuaca dingin tidak selalu identik dengan musim hujan. Kombinasi langit cerah, kelembapan rendah, dan angin kering menjadi faktor utama yang membuat suhu udara terasa lebih dingin selama musim kemarau di Indonesia.

Editor: Rio Tria Putra

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X