Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Dekati Rp17.855, Dampak Geopolitik dan Defisit Dagang Tekan Mata Uang Garuda

Photo Author
Aldi Sumardi, S.pd., Berikabar.id
- Kamis, 28 Mei 2026 | 09:47 WIB
Dolar Amerika  (Pixabay )
Dolar Amerika (Pixabay )

Pandeglang - berikabar.id | Nilai tukar rupiah kian terpuruk terhadap dolar AS akibat kombinasi memanasnya tensi geopolitik global dan melebarnya defisit transaksi berjalan domestik. Kondisi ini mulai membayangi kestabilan biaya produksi sektor industri nasional.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau mengalami tekanan yang cukup tajam pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Mata uang garuda merosot hingga ke kisaran level Rp17.855 per dolar AS, memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan.

Baca Juga: Sejarah Baru! Crystal Palace Angkat Trofi Eropa Pertama Usai Tekuk Rayo Vallecano

Tren pelemahan ini utamanya dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi yang memanas tersebut mendorong para investor global untuk mengamankan aset mereka dan beralih ke mata uang dolar AS yang dinilai sebagai instrumen investasi yang jauh lebih aman (safe-haven).

Sementara dari sisi domestik, melebarnya defisit transaksi berjalan turut memberikan beban tambahan bagi stabilitas rupiah. Penurunan angka ekspor ke beberapa negara mitra dagang utama, seperti China dan Jepang, membuat pasokan valuta asing di dalam negeri menjadi semakin terbatas.

Baca Juga: Jokowi berencana keliling Indonesia mulai Lampung, Jawa Barat, hingga NTT untuk memenuhi undangan masyarakat dan relawan daerah

Tekanan ini mulai menimbulkan kekhawatiran serius di sektor riil. Melemahnya rupiah diprediksi akan mendongkrak biaya produksi bagi industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor, yang pada akhirnya berpotensi memicu lonjakan harga barang kebutuhan masyarakat dalam waktu dekat.

Menyikapi situasi ini, Bank Indonesia diperkirakan akan terus bersiaga di pasar untuk menyiapkan langkah-langkah intervensi. Upaya tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas dan volatilitas rupiah agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional lebih signatures.

Baca Juga: Sorotan Al Jazeera terhadap film dokumenter Papua memicu perhatian internasional soal konflik, HAM, dan proyek food estate di Papua

Editor: Aldi Sumardi, S.pd.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X