berikabar.id | Kepribadian kembali menjadi bahan pembahasan dalam kajian psikologi klasik. Kali ini, sejumlah pengamat mencoba melihat karakter mantan Presiden Amerika Serikat tersebut melalui teori temperamen yang diperkenalkan oleh , filsuf dan tabib Yunani kuno yang dikenal sebagai pelopor konsep empat tipe kepribadian manusia.
Dalam teori Hippocrates, manusia dibagi ke dalam empat temperamen utama, yakni sanguinis, koleris, melankolis, dan plegmatis. Dari keempat tipe tersebut, Trump dinilai paling mendekati karakter koleris dengan kombinasi sifat sanguinis yang cukup kuat.
Baca Juga: Potret Kebersamaan Endriartono Sutarto dan Petinggi Kopassus Jadi Simbol Soliditas TNI
Trump selama ini dikenal sebagai figur yang memiliki gaya komunikasi tegas, agresif, dan penuh percaya diri. Sikap tersebut dianggap selaras dengan karakter koleris yang identik dengan jiwa kepemimpinan, ambisi besar, serta dorongan untuk mendominasi keadaan.
Dalam banyak kesempatan, Trump menunjukkan kecenderungan untuk berbicara secara langsung tanpa banyak basa-basi. Gaya itu terlihat baik saat kampanye politik, wawancara media, hingga debat publik. Pendekatan tersebut membuat dirinya dipandang sebagai sosok yang kuat oleh para pendukungnya, namun juga dianggap kontroversial oleh lawan politik.
Baca Juga: Khutbah Jumat 29 Mei 2026: Makna Kurban dan Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Teori Hippocrates menyebut individu koleris sebagai pribadi yang memiliki energi “api” paling dominan. Mereka dikenal cepat mengambil keputusan, kompetitif, dan memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuan diri sendiri. Karakter seperti ini dianggap cocok dengan citra Trump yang sering menempatkan dirinya sebagai tokoh utama dalam berbagai situasi.
Selain sisi koleris, Trump juga dinilai memiliki unsur sanguinis. Temperamen sanguinis identik dengan pribadi yang ekspresif, mudah menarik perhatian, serta mampu membangun hubungan emosional dengan banyak orang. Hal itu terlihat dari cara Trump membangun komunikasi dengan massa pendukungnya.
Baca Juga: Eks Agen CIA Terseret Kasus Penimbunan 300 Batang Emas dan Pemalsuan Identitas Selama Dua Dekade
Slogan politik seperti “Make America Great Again” menjadi salah satu contoh bagaimana Trump menggunakan pendekatan emosional yang sederhana namun efektif untuk membentuk loyalitas publik. Ia juga dikenal piawai memainkan retorika yang mudah diingat dan sering menggunakan humor maupun sindiran tajam dalam pidatonya.
Namun, teori temperamen Hippocrates juga menjelaskan bahwa tipe koleris memiliki sisi lemah. Individu dengan karakter ini cenderung mudah tersulut emosi, sulit menerima kritik, dan terkadang terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Pengamat menilai beberapa kontroversi yang melibatkan Trump muncul dari kecenderungan tersebut, terutama dalam penggunaan media sosial dan respons spontan terhadap kritik publik.
Baca Juga: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Kunjungi Papua Barat, Tegaskan Semangat Pengabdian Prajurit untuk NKRI
Meski begitu, sifat berani mengambil risiko justru menjadi salah satu kekuatan utama Trump dalam membangun citra sebagai pemimpin anti kemapanan. Pendukungnya melihat keberanian tersebut sebagai bentuk ketegasan yang jarang dimiliki politisi lain.
Fenomena ini membuat Trump menjadi figur yang sangat memecah opini masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai pemimpin kuat yang berani melawan sistem lama, sementara sebagian lain menilai pendekatannya terlalu keras dan memicu polarisasi.