berikabar.id | Selama ini, burung hantu dikenal sebagai salah satu simbol kesetiaan di dunia hewan karena sifatnya yang monogami atau hanya setia pada satu pasangan seumur hidup. Namun, sebuah temuan mengejutkan dari para ilmuwan berhasil mematahkan anggapan tersebut untuk pertama kalinya.
Berdasarkan pengamatan mendalam di alam liar, para peneliti menemukan bukti otentik bahwa burung hantu juga bisa mempraktikkan poligami sebuah fenomena yang belum pernah tercatat secara resmi dalam sejarah ornitologi (ilmu yang mempelajari burung) spesies ini.
Baca Juga: Pemkot Serang Siapkan Program Satu Kelurahan Satu Sarjana, Biaya Kuliah Ditanggung Pemerintah
Berawal dari "Cinta Segitiga" di Sarang Burung
Penemuan langka ini bermula ketika para ilmuwan memantau aktivitas keluarga burung hantu melalui kamera tersembunyi yang dipasang di area penangkaran dan habitat alami mereka.
Bukannya melihat sepasang induk yang saling bekerja sama, kamera justru menangkap dinamika yang tidak biasa: satu pejantan berbagi sarang dan tanggung jawab dengan dua betina sekaligus.
Menariknya, hubungan poligami ini berjalan sangat harmonis. Kedua betina tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda agresivitas satu sama lain. Sebaliknya, mereka justru berbagi tugas dalam mengerami telur dan merawat anak-anak burung hantu yang menetas di sarang yang sama.
Baca Juga: Hasil Piala AFF U19 2026: Vietnam Gasak Timor Leste, Jadi Peringatan untuk Indonesia
Strategi Bertahan Hidup
Para ahli biologi menyimpulkan bahwa perilaku poligami ini kemungkinan besar dipicu oleh faktor lingkungan dan ketersediaan sumber makanan.
"Ketika pasokan makanan di sebuah wilayah sangat melimpah, satu pejantan yang kuat mampu menghidupi lebih dari satu keluarga. Ini adalah strategi evolusi yang cerdas untuk memaksimalkan jumlah keturunan," ungkap salah satu peneliti dalam laporan tersebut.
Meski perilaku ini terbilang ekstrem dan tidak biasa bagi spesies yang terkenal "setia" seperti burung hantu, temuan ini membuka cakrawala baru bagi para ilmuwan. Perilaku adaptif hewan ternyata jauh lebih fleksibel daripada yang selama ini diperkirakan manusia demi mempertahankan eksistensi jenis mereka di alam liar.