Pandeglang - berikabar.id | Nilai tukar rupiah kian terpuruk terhadap dolar AS akibat kombinasi memanasnya tensi geopolitik global dan melebarnya defisit transaksi berjalan domestik. Kondisi ini mulai membayangi kestabilan biaya produksi sektor industri nasional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau mengalami tekanan yang cukup tajam pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Mata uang garuda merosot hingga ke kisaran level Rp17.855 per dolar AS, memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan.
Baca Juga: Sejarah Baru! Crystal Palace Angkat Trofi Eropa Pertama Usai Tekuk Rayo Vallecano
Tren pelemahan ini utamanya dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi yang memanas tersebut mendorong para investor global untuk mengamankan aset mereka dan beralih ke mata uang dolar AS yang dinilai sebagai instrumen investasi yang jauh lebih aman (safe-haven).
Sementara dari sisi domestik, melebarnya defisit transaksi berjalan turut memberikan beban tambahan bagi stabilitas rupiah. Penurunan angka ekspor ke beberapa negara mitra dagang utama, seperti China dan Jepang, membuat pasokan valuta asing di dalam negeri menjadi semakin terbatas.
Tekanan ini mulai menimbulkan kekhawatiran serius di sektor riil. Melemahnya rupiah diprediksi akan mendongkrak biaya produksi bagi industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor, yang pada akhirnya berpotensi memicu lonjakan harga barang kebutuhan masyarakat dalam waktu dekat.
Menyikapi situasi ini, Bank Indonesia diperkirakan akan terus bersiaga di pasar untuk menyiapkan langkah-langkah intervensi. Upaya tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas dan volatilitas rupiah agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional lebih signatures.