Skenario Pemerintah Hadapi Fenomena La Nina dan Bencana Hidrometeorologi

60
Ilustrasi fenomena alam /foto: unsplash.
berikabar.id

Jakarta, Berikabar.id-Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan skenario antisipatif dalam menghadapi fenomena La Nina dan bencana Hidrometeorologi, yang oleh BMKG diprediksi bakal terjadi di akhir Tahun 2021 dan di awal Tahun 2022. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan, pihaknya telah menyusun rencana aksi sebagai langkah antispasi dan penanganan bencana baik di moda transportasi darat, laut, udara, dan kereta api.

“Rencana aksi telah disiapkan mulai dari jangka pendek yaitu: kesiapan Standard Operation Procedure (SOP) di masing-masing moda transportasi, serta pelatihan dan simulasi implementasi rencana kontingensi bencana. Sampai ke jangka panjangnya yaitu kajian pembentukan satker khusus penanggulangan bencana. Kajian dilakukan dari berbagai aspek yaitu mulai dari aspek legal, kelembagaan, pendanaan, mekanisme pelaksanaan, serta kajian terkait kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim pada infrastruktur transportasi,” kata Budi, dalam laman resmi Kementerian Perhubungan, Senin (01/11/2021).

Budi menambahkan, rencana aksi pencegahan dan penanganan atau mitigasi bencana ini dilaksanakan dengan terus bersinergi dengan BMKG dan pemangku kepentingan lainnya,yakni Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), KemenPUPR, Pemerintah Daerah dan unsur terkait lainnya

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menuturkan, curah hujan yang tinggi dengan intensitas lebih dari 70 persen,  terjadi pada bulan Desember 2021 – Februari 2022 mendatang, sehingga kondisi ini patut diwaspadai.

“Di bulan Januari 2022 diperdikasi curah hujan akan meningkat di sebagian besar wilayah Indonesia. Peningkatan curah hujan bulanan yang semakin tinggi, dapat mencapai lebih dari 70 persen bahkan ada yang lebih dari 100 persen. Jadi ini perlu kewaspadaan kita semua di sekitar Januari dan Februari,” ungkap Dwikorita.

BMKG sebelumnya telah menyampaikan Peringatan Dini untuk mewaspadai datangnya La-Nina menjelang akhir tahun ini. Berdasarkan monitoring terhadap perkembangan terbaru dari data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, menunjukkan bahwa saat ini nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar -0.61 pada periode I Oktober 2021. Kondisi ini berpotensi untuk terus berkembang menjadi La Nina yang diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah – sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

Melansir laman BMKG, secara statistik persentase kebencanaan saat ini didominasi oleh peristiwa-peristiwa bencana yang terkait dengan cuaca/iklim. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2019 hingga 2020, kejadian bencana angin ribut/puting beliung, banjir, longsor dan kekeringan mencapai 79 persen dan 83 persen dari total bencana yang tercatat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan mengingat frekuensi kejadiannya yang sangat dominan. Bencana alam maupun non alam memang tak dapat dicegah, namun melalui upaya yang massif, koordinasi yang efektif dan sinergi yang baik antarkementerian/lembaga, tidak menutup kemungkinan resiko terburuk bisa diminimalisir.

“Peringatan dini yang dikeluarkan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan jeda waktu yang bisa dimanfaatkan utnuk mempersiapkan segala sesuatunya, mengingat fenomena cuaca dan iklim bisa diprakirakan,” ujar Dwikorta.

La Nina diketahui merupakan fenomena alam yang menyebabkan suhu udara lebih rendah (dingin) hingga melewati batas normalnya sehingga berimbas pada curah hujan yang tinggi. Fenomena La Nina saat ini terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi Sirkulasi udara tersebut mengakibatkan udara lembab mengalir lebih kuat dari Samudra Pasifik ke arah Indonesia.

 

 

Lala

Facebook Comments