Secercah Harapan Pelaku Usaha di Tengah Pandemi

305
Hanny, saat sedang menyiapkan pesanan konsumennya
berikabar.id

Kendari, Berikabar.id – Pandemi mulai masuk ke Indonesia di awal Maret 2020 memberikan dampak pada semua sektor yang ada. Ribuan pekerja terkena PHK, ratusan restoran, rumah makan dan perhotelan nyaris tutup. Hingga pada akhirnya Indonesia dihantam isu resesi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah dengan COVID-19, hingga akhirnya Presiden Joko Widodo memberikan kebijakan untuk bisa kembali beraktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Di masa tatanan kebiasaan baru saat ini, membawa angin segar bagi pelaku usaha untuk tetap mengembangkan usahanya, ditambah lagi adanya bantuan dana hibah yang diberikan kepada pelaku usaha sebesar 2,4 juta rupiah.

Hanny, pemilik Hanny Taylor mengatakan di masa new normal, membawa harapan baru di tengah usahanya yang telah ia bangun selama kurang lebih delapan tahun. Ia bahkan merasa sangat terdampak hingga harus mengurangi karyawannya. Tidak jarang di masa awal pandemi, ia berkali-kali harus menutup kios miliknya.

“Mau dibuka juga tidak ada pelanggan, kadang kalau dibuka hanya satu atau dua saja itu pun hanya permai pakaian, tidak ada orderan pakaian pesta atau gaun karena kan saat itu juga tidak ada acara pesta,” kenangnya, saat ditemui di kios miliknya yang terletak di Jalan MT Haryono, Kamis (3/12/2020).

Meskipun kondisi saat itu sedang susah, ia terus berupaya agar usaha yang dibangunnya itu tidak sampai tutup. Ia memilih untuk jualan baju online, hanya saja ia tetap memikirkan konsekuensi dari usaha yang akan dirintisnya itu.

“Akhirnya saya mulai order dulu untuk baju bayi karena saya pribadi yakin ibu-ibu itu tidak akan pikir panjang untuk membelikan anaknya baju,” ujarnya.

Di masa ini, para pelaku usaha memang dituntut agar lebih kreatif, tidak hanya memikirkan bagaimana besarnya untung, tapi bagaimana agar usaha yang sudah dibangun dan akan dibangun bisa tetap berkembang. “Untungnya kecil saja biar sedikit, yang penting laris pasti banyak yang beli,” tukasnya.

Ia juga memanfaatkan bantuan dana hibah yang telah ia dapatkan dari pemerintah. Modal tersebut digunakannya untuk membesarkan usaha jualan baju online yang dimilikinya, bahkan ia tidak menyangka kesabarannya berbuah hasil yang manis.

“Alhamdulillah ini kan jualan baju online baru tiga bulan, tapi saya sudah dapat beberapa reseller yang mau gabung karena memang harga yang saya tawarkan tidak tinggi. Saya juga menambah stok barang saya dengan bantuan dana hibah dari pemerintah. Asalkan mau sabar dan dimanfaatkan dengan benar pasti akan ada hasilnya karena saya sangat percaya usaha itu tidak akan mengkhianati hasil,” tukasnya.

Saat ini, usaha jahitan yang telah dirintisnya itu sudah mulai berjalan dan ia juga sudah memiliki tiga karyawan yang membantunya.

“Asal tidak putus asa, ini usaha jahitan saya juga sudah bangkit kembali. Jadi jahitan jalan dan jualan online saya juga sudah berkembang, saya sangat bersyukur,” pungkasnya.

Senada dengan hal itu, Kepala Perwakilan BI Sultra, Suharman Tabrani,menuturkan di masa tatanan kebiasaan hidup baru ini perekonomian di Sultra akan terus membaik.

“Saya sangat yakin jika kondisi perekonomian kita akan semakin membaik hal ini dibuktikan dengan naiknya perekonomian kita yang terkontraksi pada angka 1,8 persen, meskipun masih lebih baik dari nasional sebesar 3,5 persen,” katanya.

Pihaknya juga mencatat, inflasi Sultra tergolong rendah pada November 2020 tercatat 1,22 persen, angka tersebut lebih rendah dari inflasi nasional.

“Inflasi kita rendah berada pada angka 1,22 persen sementara nasional tercatat 1,59 persen,” ujarnya.

Dikatakannya, jika hal ini terus berlanjut maka ia optimis angka pertumbuhan ekonomi di Sultra akan semakin tinggi pada triwulan keempat, dengan catatan semua pihak saling bersinergi.

Sitti Harlina

Facebook Comments