Pemanfaatan Komoditas Pangan Lokal Sultra Cegah Resiko Stunting dan Penularan Covid-19

461
berikabar.id

Kendari, Berikabar.id-Tim ahli gizi yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memanfaatkan produk pangan lokal Sultra untuk meminimalisir resiko peningkatan kasus stunting atau kegagalan pertumbuhan tubuh dan otak pada anak akibat mengalami gizi buruk sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Nurbiah Goro, Ketua tim expert program Desa “Bone Tondo menuju Zero Stunting”, mengatakan, selain untuk penanganan stunting, komoditas pangan lokal ini juga dimanfaatkan dengan harapan dapat meningkatkan daya tahan  tubuh (imunitas) bayi dan ibu hamil dari penularan virus influenza termasuk coronavirus disease (Covid-19).

“Pandemi Covid-19 ini menggugah semangat kami selaku tim expert gizi untuk mengkampanyekan pola hidup sehat bagi ibu hamil, dengan asupan gizi yang terbaik untuk janin mulai dari 1000 hari pertama kehidupannya di dalam kandungan,”  kata Nurbiah, kepada kepada Berikabar.id, Rabu (04/11/2020).

Lanjut Nurbiah, bahan pangan alternatif yang dimanfaatkan dalam program menuju zero stunting ini terdiri dari umbi-umbian (ubi ungu), kacang mete dan virgin coconut oil (vco) atau ekstrak minyak kelapa. Ketiga bahan pangan ini, kata Nurbiah, mengandung bahan-bahan alami yang kaya akan sumber vitamin, asam folat Fe dan omega 3 sebagai agen anti inflamasi (peradangan), yang sekaligus mampu menghambat replikasi virus influenza.

“Semua bahan ini sudah melewati Riskesdas, sehingga aman untuk dikonsumsi ibu hamil dan bayi. Didampingi aparat desa, kami mulai mengkampanyekan kepada masyarakat, dengan harapan masyarakat mulai memahami bahwa tumbuh kembang anak ditentukan dari asupan gizi sejak dalam kandungan,” ujar Nurbiah.

Nurbiah menambahkan, program percepatan penurunan kasus stunting ini dimulai sejak April 2020. Sosialisasi dimulai dari Desa Bone Tondo, Kabupaten Muna, Provinsi Sultra.

Ia berharap agar pemerintah setempat juga mendukung upaya pihaknya dalam meminimalisir angka kasus stunting terutama sejak menghadapi tantangan pandemi covid-19 yang  menjangkiti wilayah nusantara, tak terkecuali di Provinsi Sultra, sejak beberapa bulan ini.

“Tahun 2013, data riskesdas angka kasus stunting secara nasional mencapai 37,2 persen. Kemudian 2018 menurun di angka 30,8 persen. Beresiko jika sudah mencapai 40 persen. Karena itu, menjadi tugas kita bersama memastikan asupan gizi terbaik bagi generasi kita, terutama di tengah tantangan pandemi saat ini,” pungkas Wakil Sekretaris DPD PERSAGI Sultra ini.

 

Penulis: ERNILAM

 

 

 

 

Facebook Comments