Kemenristek/BRIN dan LPPM UHO Akselerasi Teknologi Produksi Pakan Ikan Terapung Lewat Kegiatan PTDM

365
Tim riset Kemenristek/BRIN dan LPPM UHO saat melaksanakan uji coba mesin produksi pelet ikan terapung. Foto: Istimewa.
berikabar.id

Kendari, Berikabar.id-Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo (UHO), berupaya mengakselerasi teknologi pelet (pakan) ikan terapung yang terintegrasi dengan teknologi penetas telur di Kota Kendari. Upaya itu dimulai dengan melaksanakan kegiatan Produk Teknologi yang Didiseminasikan ke Masyarakat (PTDM). Kegiatan ini sendiri diketuai oleh Suwarjoyowirayatno, beranggotakan Muh. Syukri Sadimantara dan Muh. Ali Sukrajab.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengakselerasi proses hilirisasi produk teknologi hasil penelitian dosen yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ada dua manfaat sekaligus dapat dicapai yaitu pendayagunaan produk teknologi hasil penelitian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Ketua pelaksana kegiatan PTDM, Suwarjoyowirayatno, Selasa (1/12/2020).

Ia berharap, kegiatan PTDM ini bisa memicu masyarakat untuk lebih melek terhadap perkembangan Iptek sehingga mereka bisa berperan aktif dalam aktivitas sosial ekonomi menuju Sulawesi Tenggara yang sejahtera.

PTDM, kata dia, juga dilatarbelakangi oleh sederet kendala termasuk diantaranya adalah mahal dan langkanya pakan ikan yang bisa terapung di kota Kendari sehingga petani ikan mengalami kesulitan dalam budidaya ikan air tawar.

“Di sisi lain, usaha untuk mencoba memproduksi sendiri pelet ikan kurang berhasil karena pelet yang mereka produksi tidak dapat mengapung. Diperlukan inovasi teknologi tepat guna produksi pelet ikan yang bisa mengapung sehingga bisa dioperasikan oleh mitra di lapangan,” ujarnya.

Lanjut dia, kendala lainnya yang dihadapi dalam memproduksi pakan ikan adalah harga tepung jagung yang terhitung mahal untuk di Kota Kendari. Padahal daerah ini menurutnya merupakan sentra produksi padi di Sulawesi.

Karena itu, kata dia, dibutuhkan mesin penepung jagung dengan teknologi tepat guna yang bisa dioperasikan oleh para mitra. Termasuk juga teknologi pencampuran bahan baku tepat guna agar bahan-bahan pakan ikan bisa tercampur dengan sempurna.

“Untuk budidaya ikan sendiri, pelaku usaha juga mengalami kesulitan dalam hal sirkulasi air terutama untuk budidaya ikan mas dan nila yang membutuhkan sirkulasi air yang cukup. Dibutuhkan bantuan berupa pompa air yang kuat agar semua bisa berjalan dengan optimal,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, anggota kelompok BMI yang memiliki usaha peternakan ayam saat ini mengalami kendala terutama terkait ketersediaan anakan/bibit ayam (DOC) yang sulit didapatkan di Kota Kendari, sehingga harus disuplai dari daerah lain. Karena itu, dibutuhkan teknologi penetasan telur ayam menjadi DOC yang akan dibudidayakan sendiri oleh mitra.

“Di sisi lain, kondisi listrik di Kendari yang sering padam akan menjadi permasalahan dalam usaha penetasan telur tersebut, sehingga dibutuhkan energi alternatif berupa pembangkit listrik tenaga surya, yang bisa bermanfaat untuk operasional mesin penetas telur tersebut secara kontinyu tanpa khawatir listriknya padam,” urainya.

Melihat sederet kendala dan persoalan tersebut, pihaknya berinisiatif membuat dan menyediakan mesin produksi pelet  ikan terapung untuk menghasilkan pakan yang berkualitas bagi petani ikan.

Produksi pakan ikan terapung tersebut, menurutnya juga perlu didukung dengan teknologi penyiapan bahan bakunya, seperti teknologi penepung jagung dan pengaduk bahan baku agar bisa tercampur merata sebelum dicetak menjadi bentuk pelet.

“Termasuk juga memberikan bantuan pompa air tipe semi jet yang digunakan oleh pembudidaya ikan untuk menjaga sirkulasi air di dalam kolam yang mereka miliki,” katanya.

Langkah solutif lainnya yang dilakukan adalah dengan membuat dan menyalurkan mesin penetas telur dengan kapasitas sedang yang dapat beroperasi dengan optimal dalam menghasilkan anakan ayam (DOC) yang sehat. Mesin tersebut, kata Suwarjoyowirayatno, perlu didukung oleh teknologi pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi yang murah dan kontinyu, sekaligus sebagai pengganti listrik dari PLN yang sering padam di daerah Kendari.

” Solusi lainnya adalah melaksanakan pelatihan penggunaan teknologi-teknologi yang didiseminasikan, sehingga mitra penerima bisa menggunakan peralatan-peralatan dengan baik dan benar,” ujarnya.

Adapun beberapa peralatan yang diberikan kepada mitra PTDM yakni mesin pencetak pakan ikan terapung, mesin penepung jagung, mesin pengaduk bahan baku pakan, mesin penetas telur ayam, pompa air tenaga surya, pembangkit listrik tenaga surya (solar home system), yang digunakan untuk meningkatkan produksi maupun usaha mitra.

 

Penulis: ERnilam

Facebook Comments