Awalnya Terpaksa, Kini jadi Hobi yang Berbayar

614
Beberapa contoh squid jig buatan Om Emen siap didistribusikan. (Foto: Om Emen)
berikabar.id

 

Pengalaman menjadi guru paling berharga bagi setiap orang. Hal ini pula yang dirasakan oleh Emen atau Om Emen. Orang-orang akrab memanggilnya dengan sebutan om emen. Bukan hanya karena usianya tapi banyaknya pengalaman yang ia dapatkan dan menjadi energi positif bagi yang lain untuk ditularkan.

Om Emen saat ini sedang menggeluti pembuatan umpan pancing cumi-cumi atau biasa kita kenal dengan sebutan squid jig. Ia pun menjelaskan bahan dasar squid jig yang dibuatnya dengan manual. Squid jig buatan Om Emen ini berbahan dasar sederhana, dimana untuk bagian body dibuat dari batang pohon nangka yang sudah kering atau mati, lalu ia juga menggunakan spidol untuk mengukir sehingga bentuk squid jig akan sama persis dengan ikan.

“Dari batang pohon nangka yang sudah ditebang, harus kering betul karena kita ambil bagin dalamnya yang bersih. Untuk pewarna saya biasa gunakan pilox, lalu hook, atau kawat pancingnya saya buat dari timah plat kemudian sinkernya dari kawat stainless supaya squid jignya bisa tenggelam,” katanya.

Benar kata pepatah ‘Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’, ternyata pembuatan squid jig ini dipelajari dari almarhum bapaknya. Namun, saat itu ia sama sekali tidak tertarik untuk mendalami pembuatan squid jig.

“Pertama kali saya melihat proses pembuatan umpan pancing cumi-cumi ini adalah dari orang tua saya yaitu almarhum bapak saya sekitar tahun 2016-an. Beliau sangat mahir dalam urusan ini (membuat Umpan pancing cumi-cumi), namun pada saat itu saya belum ada ketertarikan sama sekali untuk mempelajari, apalagi sampai membuatnya sendiri,” katanya.

Namun, siapa sangka hal yang dulunya tidak membuatnya tertarik sekarang justru menjadi salah satu hobinya, bahkan menjadi hobi yang berbayar. Ia pun mulai mengisahkan, awal ia terpaksa harus membuat squid jig dengan tangannya sendiri.

Ia mulai mempelajari pembuatan squid jig dengan sisa-sisa ingatan yang pernah dilihat dan dipelajari dari almarhum bapaknya sekitar tiga tahun silam. Ya, Om Emen terpaksa membuat squid jig di awal tahun 2019 karena saat itu ia pindah domisili di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep).

“Tahun 2019, saya pindah domisili ke Pulau Wawonii, Kabupaten Konkep yang hampir semua desa berada di wilayah pesisir. Hal ini memaksa saya untuk kembali pada bapak saya untuk mempelajari bagaimana cara membuat squid jig. Saat tinggal di sini, anda tidak serta merta begitu ingin makan cumi-cumi langsung ke pasar untuk membelinya, karena di sini tidak ada yang namanya pasar pada waktu itu selain anda harus memancingnya sendiri,” kenangnya.

Konkep merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra), Konkep juga merupakan daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Konawe sesuai dengan Undang-Undang No 13 Tahun 2013 tentang pembentukan Kabupaten Konawe Kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pejabat Bupati Konkep Pertama yakni dijabat oleh Nur Sinapoy yang dilantik pada tanggal 23 Oktober 2013.

Sekilas sejarah tentang Konkep kita singgung, karena tempat ini pula yang membuat Om Emen mengukir sejarah dengan menjadikan hobinya sebagai salah satu pengalaman yang luar biasa. Bukan hanya secara materi, ia juga mampu membangun jaringan hingga ke luar daerah.

Tinggal di daerah pesisir dengan kekayaan bawah lautnya juga membuat Om Emen semakin tertantang untuk bisa membuat squid jig. Semua tentu butuh proses dan keyakinannya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil membuahkan buah yag manis saat ini.

“Mulailah saya membuat squid jig pertama saya, tentunya tidak sebagus yang sekarang, beberapa kesulitan mulai saya temukan yaitu mulai dari pembuatan body jig, atau bentuk dari squid jig itu sendiri, cara merangkai hook, atau kawat pancingnya, pembuatan sinker yang efisien agar action squid jig yang kita buat bisa bagus dan menarik perhatian cumi-cumi hingga pewarnaan, ” bebernya.

Squid jig diletakkan di mata pancing dan siap digunakan sebagai umpan cumi-cumi. (Foto: Om Emen)

Ia pun terus mengasah kemampuannya dengan terus membuat squid jiq lainnya. Seiring berjalannya waktu, meskipun tinggal di pesisir, Om Emen tidak ketinggalan, ia ikut memanfaatkan media sosial melalui canal youtubenya, akun Facebook hingga Instagram. Saat itu, pemanfaatan medsos yang dimilikinya itu dilakukan untuk ikut berbagi ilmu dan memacing orang lain untuk ikut memberikan masukan atas kerajinan tangan yang telah dibuatnya. Siapa sangka, video dan gambar yang dibagikannya justru diminati.

“Lalu terlintas di benak saya untuk berbagi ilmu dengan teman-teman yang ada di luar sana melalui social media mulai dari youtube, facebook sampai instagram, dan ternyata para kawan-kawan yang ada di luar kebanyakan bukannya mempelajari beberapa video yang saya bagikan, melainkan mereka malah meminta untuk membeli squid jig yang saya buat,” katanya.

“Disinilah awal mula umpan pancing cumi yang saya buat mulai diminati oleh para pemancing karena setiap yang mereka beli dari saya selalu mendapatkan hasil pancingan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menjual cumi-cumi hasil pancingan yang squid jignya berasal dari buatan tangan saya,” sambungnya lagi.

Ia kembali berkisah bahwa di awal pembuatan squid jig, ia mendapatkan beberapa tantangan seperti yang sudah dipaparkan di atas. Setelah kebanjiran orderan, ia kembali mengungkap kendala yang dihadapi. Memang tidak mudah baginya, apalagi kerajinan squid jig yang dibuatnya dilakukan secara mandiri dengan berbekal alat yang sederhana.

“Saya menghadapi kendala seperti keterbatasan alat yang saya gunakan, karena semua sampai saat ini masih manual yaitu dengan menggunakan pisau cutter, tang, dan beberapa alat pendukung yang saya modifikasi sendiri. Keterbatasan alat inilah yang menyebabkan terbatasnya jumlah produk yang bisa dihasilkan saat saya ingin memproduksi squid jig ini secara massal,” ungkapnya.

Tentu saja ini bukan lagi menjadi kendala kecil karena saat ini squid jig buatannya sudah diminati hingga ke luar Sultra dan mulai variatif, tergantung orderan.

“Kalau ada bantuan dari pemerintah untuk mempermudah pembuatan squid jig tentu saya terima, karena selama ini pembuatannya masih dengan cara manual, sementara permintaan sudah mulai banyak,” ujarnya.

Squid jig buatannya, sudah didistribusikan ke sejumlah wilayah, bukan hanya di Sultra saja. ” Alhamdulillah sekarang squid jig saya sudah dikirim ke Bangka Belitung Sumatra, NTB, Batam, Mepanga Sulawesi Tengah dan beberapap wilayah pesisir di Sultra,” cetusnya.

Menurutnya, dalam kondisi benar-benar fokus dan tidak mengerjakan pekerjaan lain, ia bisa memproduksi squid jig sebanyak 5 pcs sehari, sementara untuk harga dibandrol sebesar Rp50.000,- hingga Rp80.000,- .

“Untuk Omset sebenarnya cukup menjanjikan, karena penjualan per pcs dari umpan pancing cumi ini Rp50.000,- sampai Rp60.000,- . Apalagi kalau orderannya berasal dari luar daerah harga bisa sampai Rp80.000,-, kalau bisa terjual 100 pcs dengan harga Rp50.000,- per minggu kan kita bisa mendapatkan omset sebesar Rp5.000.000,- per minggu,” tutupnya.

#kontendanfotomendukungpariwisataSULTRA
#ekonomikreatif.sultra
#wonderful.indonesiaku

Facebook Comments